Sabtu, 11 Maret 2017

Suluk Syeh Siti Jenar.


Koleksi 'buku langka' yang diunggah dibawah ini sudah disimpan lebih dari tujuh belas tahun, didapat saat sedang melihat-lihat dagangan penjual buku bekas.
Terlihat menarik, baik covernya maupun kertasnya, ditulis tangan menggunakan aksara Jawa, biarpun belum mengerti isinya karena gaya tulisannya agak membingungkan, tetap bersyukur,  akhirnya 
buku ini menjadi koleksi 'buku langka'.
Karena 'buku langka' tidak ahli aksara Jawa, agak sulit memahami tulisan tangan yang ada dibuku ini, namun demikian pelan-pelan bisa juga terbaca bahwa isi buku ini berbentuk tembang 'macapat', 
yaitu salah satu bentuk tembang Jawa dan kalau membaca isinya yang banyak mengulas 'kebatinan', maaf kalau keliru, kemungkinan buku ini adalah "Suluk Syeh Siti Jenar".

Memang gaya tulisan tangan orang bisa sangat berbeda satu dengan yang lain. Ada yang rapi sesuai dengan ketentuan, ada juga yang menulis seperti yang terlihat dalam buku yang diunggah ini.
Agar lebih jelasnya, dibawah ini contoh perbedaan gaya penulisan aksara di buku ini, dengan gaya penulisan yang lain.
Dalam buku yang diunggah ini, harus berpikir berulang-ulang 
untuk membedakan antara huruf 'k','t','h', huruf 's','n,'d', huruf 'a','g','y' dan banyak lagi huruf yang membingungkan, apalagi kalau tidak mengerti bahasa yang digunakan.  
Dalam buku tidak dijelaskan 'penulisnya', 'sumber' tulisannya, maupun 'kapan' ditulisnya. Hanya  ada tulisan nama dihalaman paling depan. 'Radhen Mas Pandji Partahardja', mungkin nama tersebut adalah pemilik pertamanya (bawah).  

Gambar-gambar dibawah adalah gambar halaman 1 dan 2, dimana diceritakan pertemuan Kyageng Pengging dengan Syeh Siti Jenar.

Sedang gambar-gambar dibawah ini adalah gambar halaman 282 dan 283, adalah halaman akhir,  
Pada akhir kisah, diceritakan Syeh Mahgribi menengahi perbedaan pendapat antara Syeh Mlaya dan Syeh Dumba, dan selanjutnya Syeh Mahgribi menutup persidangan/pertemuan, kemudian para santri, kyai. ulama, auliya, mukmin, masing-masing pada membubarkan diri (hlm. 279 - 283).

Disini tidak mengunggah kisah 'Syeh Siti Jenar' karena sudah banyak buku kisah Syeh Siti Jenar yang beredar, disini hanya mengulas mengenai 'buku langka' ini saja.
Buku berukuran 18 x 21 x 2.3 cm, hard cover berlapis kulit embos (gambar bawah), 283 halaman + beberapa halaman kosong dibelakangnya, Penjilidannya beberapa ada yang lepas, maklum umurnya sudah 'sepuh',100 an tahun, namun masih lengkap.
Melihat covernya, kertasnya maupun tintanya, diperkirakan ditulis sekitar akhir abad XIX atau awal abad XX, akhir th. 1800 an - awal th 1900 an.

Kamis, 16 Februari 2017

Mangkunagoro VI.


Buku peringatan '40 tahun ' atau '5 windu' wafatnya K.G.P.A.A  Mangkunagoro VI dibawah ini walaupun belum tua tetapi termasuk buku langka. Kalau melihat kata sambutan oleh Jenderal Nasution, yaitu pada tanggal 5 Juni 1965, maka saat ini umur buku ini 50 tahun. 
K G P A.A. Mangkunagoro VI adalah raja ke 6, Praja Mangkunagaran, istananya terletak di tengah-tengah kota Solo, tidak jauh dari Kraton Surakarta.
Beliau lahir pada tgl. 3 Maret 1857, naik tahta pada tgl. 21 November 1896, menggantikan kakaknya Mangkunagoro V wafat namun putra mahkota pengganti yaitu BRM Soerjosoeparto masih kecil.
Begitu putra mahkota BRM Soerjosoeparto sudah cukup usia untuk naik tahta, maka Mangkunagoro VI turun tahta atas kehendaknya sendiri, pada tgl. 11 Januari 1916 dan selanjutnya beliau menetap di Surabaya sampai meninggal pada 24 Juni 1928.
Mangkunagoro IV (MN IV) terkenal sebagai penguasa dan pengusaha yang disiplin dan juga anti Belanda.
Saat beliau menggantikan kakaknya, kas kerajaan sedang krisis karena keadaan dan ulah Belanda, bahkan punya utang pada Belanda.
Untuk mengatasinya maka MN IV membuat kebijakan-kebijakan, diantaranya menolak campur tangan Belanda dalam menangani usaha-usaha milik Mangkunegaran, memisahkan keuangan perusahaan dan keuangan kerajaan, menarik pajak tanah yang disewa yang dipakai kereta api swasta Belanda (NISM) dan saat NISM tidak membayar maka NISM jurusan Solo-Surabaya disita sebagai milik. Dan tentu saja kebijakan pemangkasan pengeluaran yang tidak diperlukan, misalnya mematikan lampu penerangan jalan pada
saat terang bulan.
Dengan kebijakan-kebijakan yang diterapkan, MN IV pada saat menyerahkan tahtanya kepada yang berhak, utang kerajaan sudah dibayar lunas, 'kas kerajaan' sudah 'sehat' kembali. 

Gambar bawah adalah MN IV pada saat berusia 28 tahun dan setelah bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagoro IV. 

Gambar bawah, kediaman beliau di jalan Panglima Sudirman Surabaya.

ZAMAN Perang Kemerdekaan 1948-1949. Puluhan mortir Belanda dijatuhkan di pemakaman yang ketika itu menjadi salah satu tempat pengungsian warga Solo. Ajaib! Tak satu pun mortir meledak. Lalu menyebarlah cerita tentang tuah makam itu. 
Dibawah ini gambar gerbang dan makam MN IV di SOLO.

Buku berukuran 11.5 x 18 cm, 237 hlm.

Teks dan gambar diambil dari buku diatas dan internet.
Maaf apabila ada kekeliruan.

Minggu, 29 Januari 2017

ATJEH


Koleksi 'buku langka' yang berjudul :
" A T J E H " oleh H.C. Zentgraaff ini 
termasuk langka karena sudah sulit kalau sengaja ingin membeli.
H.C. Zentgraaff, penulisnya, pernah bertugas sebagai militer di Aceh namun beralih kemudian menjadi wartawan Harian Java Bode. 
Buku ini dipenuhi lebih dari 150 foto-foto menarik, menggambarkan keadaan kehidupan, peperangan di Aceh.dan peta Aceh jaman dulu

Dibawah ini gambar anggota marsose Belanda.

Dibawah ini gambar-gambar mayat-mayat penduduk bergelimpangan akibat peperangan melawan Belanda

Selanjutnya gambar bawah, salah satu sarana transportasi jaman dulu adalah gendongan, baik untuk orang maupun barang.
Gambar bawah kiri, gendongan bertingkat untuk 2 anak, gambar kanan, gendongan untuk membawa bir.

Gambar berikutnya tampak 'gaya hidup Belanda saat itu, terlihat ada Hotel Julijana (kiri bawah) dan kunjungan minum teh para petugas wanita, diatas rel didorong dan dikawal marsose (bawah kanan).

HC. Zentgraaff juga menulis dalam bukunya (hlm. 63 & 100), 
'tidak ada satu bangsa manapun yang fanatik dan gagah berani seperti bangsa Aceh, pria maupun para wanitanya yang bersedia mati syahid membela bangsanya'.

Buku langka berukuran 23.5 X 31.5 X 3 cm, HC, 303 halaman ini dicetak oleh 'Koninlijke Drukkerij De Onie, Batavia. 
Tidak ditemukan keterangan dalam buku, kapan dicetaknya, tapi dihalaman 160, H.C. Zentgraaff menceritakan kejadian T. Radja Sabi menjadi Uleebalang di Keureutoe pada th. 1937. 
Jadi buku ini dicetak setelah th. 1937.
Maaf kalau keliru.

Jumat, 06 Januari 2017

KORUPSI di Madjalah Kebudayaan "INDONESIA", 1954. (II)


Sesuai rencana, 'buku langka' melanjutkan unggahan 'Bundel Majalah Kebudajaan Indonesia, 1954' yang mana salah satu nomernya, sepenuhnya berisi novel berjudul 'KORUPSI' karya Parmudya Ananta Toer, maka dibawah ini diunggah gambar bundel majalah dan majalah yang memuat 'Korupsi' tersebut diatas.

Dibawah ini gambar cover majalah kebudayaan 'Indonesia' no. 4, April 1954, berjudul "KORUPSI" karya Pramudya Ananta Toer.
Bawah kiri adalah gambar halaman judul, sedang sebelah kanan adalah halaman yang berisi penjelasan dari redaksi sehubungan dengan penerbitan "Korupsi" pada majalah kebuyaan 'Indonesia. Silahkan baca, untuk jelasnya, 'klik' saja gambar bawahnya, yang sudah diperbesar. Silahkan disimpulkan maksud dari penjelasan redaksi tersebut.

Gambar bawah adalah halaman awal dan halaman akhir "Korupsi".

Koleksi 'buku langka' lainnya adalah 'Korupsi cetakan II', terbitan NV. Nusantara, th. 1961 (gambar bawah).

3 gambar dibawah ini diambil dari internet yaitu edisi bahasa Inggris, Belanda dan Indonesia (2002).

Belum terlihat di internet 'Korupsi cetakan I' nya. Apakah 'Korupsi' yang di Majalah Kebudayaan Indonesia dianggap cetakan I ?.

Sabtu, 31 Desember 2016

Majalah Kebudayaan "INDONESIA", 1954. (I)


Sesungguhnya bundel majalah kebudayaan th. 1954 yang diunggah kali ini belum terlalu tua dan tidak langka sekali walaupun kalau sengaja ingin memiliki tentunya juga sulit. Namun begitu, dalam bundel majalah ini terdapat beberapa hal yang menarik, diataranya terdapat karya tokoh seni, sastra dan budaya yang terkenal pada jamannya sampai jaman sekarang.
Nama majalahnya adalah :

'INDONESIA, Madjalah Kebudajaan'
Bukan hanya isinya, bahkan Dewan Redaksinya juga sastrawan terkenal, bisa dilihat digambar bawah kanan, diantaranya ada Armijn Pane, Amir Pasaribu, S, Soedjojono dll.

Gambar bawah kiri adalah gambar cover depan bundel, menggunakan cover majalah no.: 1/2 bulan Januari/Februari 1954. Terlihat sketsa sdr. Batara Lubis, Jogja 11 7 53 (11 Juli 53). Demikian juga cover majalah No. 12, bulan Desember '54, terdapat sketsa Affandi.
Untuk menikmatinya silahkan 'klik' gambarnya.

Bagi penggemar puisi, dibawah ini puisi WS Rendra (masih muda), berjudul "Seorang Temanku".
Banyal juga kisah roman atau mungkin sekarang biasa disebut cerpen, karya sastrawan terkenal, diantaranya Ayip Rosidi, Utuy T. Sotani, Trisni Sumardjo, A.K. Mihardja dll. 

Bahkan salah satu nomer dalam bundel ini yaitu No. 4, bulan April 1954, full satu nomer berisi karya Pramudya Ananta Toer (masih muda), berjudul "Korupsi"
InsyaAllah, berikutnya akan diunggah buku/novel "Korupsi".

Bundel majalah tersebut diatas berukuran 15 x 23 x 3.8 cm, setebal 742 halaman,

Jumat, 02 Desember 2016

Kidungan Kawedar Sunan Kalijaga.

Saat masih sekolah SR, sekitar klas I, th. 1955, kira-kira berusia 6 tahunan, sakit tapi tidak kepoliklinik karena jauh dan biaya, cukup dikompres air perasan jeruk nipis dan diborehi bawang merah. Setiap malam ibu membaca buku disebelah saya dan melantunkan tembang Jawa, diterangi lampu tempel berbahan bakar minyak tanah, sampai saya sembuh.
Setelah besar (klas V-VI) baru tahu bahwa yang dibaca ibu adalah buku 'Kidungan' dan 'alhamdulillah' buku tersebut sampai sekarang masih tersimpan dengan baik walaupun mengalami kerusakan karena sering dibaca dan sering dipinjam tetangga atau saudara.
Buku yang dibaca ibu tampak pada gambar bawah ini,
"Serat Kidungan Kawedar",
itulah judul bukunya, dalam aksara Jawa, buku tersebut berisi Kidung atau Tembang, lagu Jawa.
 Kidung yang ada didalam buku ini adalah kidung karya Sunan Kalijaga, salah seorang dari Walisongo, penyebar agama Islam di Jawa. Dilantunkan dalam lagu 'dandanggula', sebuah lagu Jawa, terdengar dan terasa sangat mediatif dan kontemplatif.
Dipercaya oleh sebagian masyarakat Jawa, bahwa apabila kidung tersebut dilantunkan maka akan timbul suasana yang menenteramkan, aman dan mencegah hal-hal yang tidak baik. Suasana akan lebih terasa apabila dilantunkan dikeheningan malam, lingkupnya akan lebih luas bila dilantunkan bersama-sama, apalagi dilantunkan oleh yang mengerti arti dan makna dari kidung tersebut.
Maka kidungan tersebut banyak dilantunkan saat sedang risau, sedih dll., dan juga dilantunkan bersama bila akan menghadapi pekerjaan besar, misalnya mantu, bikin rumah, menanam, panen, ada pageblug (penyakit menular) dll.

Saya 'tranliterasi'kan sedikit apa yang tertulis di cover depan buku ini :
"Kidungan punika serat kina pralambangipun ngelmi Islam ingkang sajati, tuwin minangka wawarah pamujinipun kawula dhateng Gusti, iketanipun Kangjeng Susuhunan Kalijaga, ... dst.

Bagi yang ingin mengetahui isi 'Kidungan Sunan Kalijaga', sudah banyak terdapat di toko-toko  buku bahkan penjual buku keliling

Sesuai dengan judul buku ini, Serat Kidungan Kawedar, maka selain 'kidungannya' juga dimuat 'wedarannya' yaitu uraian maksud dan makna daripada kata dan kalimat yang dirangkai dalam kidungan tersebut. Yang me'wedar' adalah R. Wirjapanitra.

Dibawah ini adalah gambar 'Tan Khoen Swie', penerbit buku ini, dan halaman kanan adalah pembukaan buku ini 'Bubuka'
Selanjutnya dibawah ini gambar 'Kidungan 1 dan Kidungan 45', 
setelah Kidungan selesai, disambung dengan tembang lain karya Kyai Ronggosutrasna. 

Buku ini berukuran 14.5 x 21.5 cm, hardcover 98 halaman.
Diterbitkan oleh Boekhandle Tan Khoen Swie, pada th. 1941.
Sudah mengalami perbaikan terutama pada penjilidannya.

Senin, 28 November 2016

Isteri Soesila. Majalah Wanita Islam, th 1924.


"ISTERI SOESILA"
'Allahoemma Ihdinaccirothol Moestaqiem!'
yang diunggah ini adalah majalah berbahasa dan ejaan Melayu tahun 1900 an. Mungkin agak merepotkan membacanya bagi anak muda jaman sekarang, masa tahun 2000 an.
Koleksi 'buku langka' ini adalah bundel majalah "Isteri Soesila" Nomer 1s/d 9, Tahoen I,  
Tidak ada tertulis secara jelas kapan waktu terbitnya, namun terdapat tulisan didalamnya bahwa nomer 1 terbit pada bulan Ramadhan  1342 H/April 1924, sedang nomer 9 terbit pada bulan Desember 1924.
Sesuai dengan judulnya, majalah tersebut diperuntukan bagi wanita Islam (Muslimah), bahkan tertulis pada halaman depan "Isteri Soesila" Nomer 3, Tahoen I, bagaimana majalah "Isteri Susila" berani membangunkan jiwa patriotisme bagi kaum muslimah untuk 'mengejar kemerdekaan', walaupun Belanda masih menguasaiSilahkan baca gambar dibawah ini.

Bahasa Melayu yang digunakan memang bahasa th. 1920 an jadi agak 'aneh' dibandingkan bahasa jaman th. 2000 an. Begitu juga dengan yang dimaksud 'luar negrie' adalah diluar Jawa, maklum karena memang belum ada NKRI (baca gambar bawah)

Dibawah ini adalah halaman depan "Isteri Soesila" No. 1 (April 1924) dan No. 9 (Desember 1924)

Sesungguhnya sebelum terbit, sudah ada majalah "Worosoesilo", berhubung ada permintaan dari pembaca 'loear negrie' (luar Jawa) agar "Worosoesilo" menerbitkan versi bahasa Melayu, maka diterbitkanlah "Isteri Soesila"bsgi yang tidak mengerti bahasa Jawa.
Worosoesilo dan Isteri Soesila mempunyai makna yang sama yaitu Isteri yang mengetahui kesusilaan dan norma hidup yang berlaku dalam masyarakat.